# BAB 2

28 Februari 2009.  Jakarta   

        Gilang bangun agak telat hari ini. Ia sangat kesal. Kenapa tadi malam dia harus memikirkan seseorang yang bahkan Gilang tidak tahu orang itu akan memikirkannya juga. Gilang cepat-cepat turun dari tangga dan langsung menyambar roti dan selai yang ada di atas meja. Disana sudah ada orang tuanya, Tio dan Fiaa yang sedang mengobrol-ngobrol sambil ketawa-ketawa melihat tingkah laku Fia yang lucu.

“kak Gilang, koq bangunnya telat sih?” kata Fia yang imut sambil memakan rotinya.

“tadi malam kak Gilang tidurnya kemalaman Fi.”sambil mengelus rambutnya Fia.

“Kak Alzura aja udah berangkat dari tadi. Gag tau tuh, tiba-tiba aja buru-buru bgt. Padahal kan masih pagi. Kak Gilang gag ikutan buru-buru kayak kak Alzura?” kata Fia panjang lebar. Tapi Gilang malah melamunkan sesuatu.

“eh, kak Gilang gag pernah buru-buru Fi. Gag kayak kak Alzura.” Kata Gilang sambil membawa rotinya dan berdiri mengambil tasnya. “Gilang berangkat. Asslamualaikum.”

“katanya kak gilang gag pernah buru-buru.tapi, kok malah keliatannya buru-buru banget.”

“udaah Fia sayang. makan saja roti kamu.”

“iya mah.”
        Gilang berjalan menuju kelasnya. Menaruh tas dan langsung pergi lagi menuju perpustakaan untuk mengambil buku yang sudah ia pilih kemarin. Sambil melewati kelas IPA H ia tidak sengaja melihat Alzura sedang bercanda-canda dengan teman-teman yang separuhnya duduk di atas meja sambil sesekali menyibukan menulis sesuatu di bukunya yang ada di atas mejanya. Kelas akhir memang sangat santai dan tidak memikirkan hal apa untuk kuliah nanti. Terutama teman-temannya Alzura yang tiap hari hanya ketawa-ketiwi di kelas, di jalan, di kantin. Tidak pernah memikirkan belajar. Gilang hanya melihat sekilas sambil berjalan santai menuju perpustakaan.

“woy, gw ke kelas dulu ya. Bentar lagi masuk niih.” Teriak Alzura sambil membawa bukunya. Teman-temannya melambai-lambai.”huss..huss..huss.. sana-sana yang kelas atas.” Sindir Tito sambil ketawa-ketawa.

“udah selesai nyalin PR fisikanya Al?” kata Nada dengan nada perhatian. “tenang aja. Gw kan penyontek profesional Da. Pasti cepetlaah.hehee.”

“udah sana!! Yang udah di atas mah beda.”

“yeeee..ngeselin lu pada. Udah aah gw mau masuk kelas. Wlee!!” kata Alzura sambil menjulurkan lidahnya.
       Diruang kelas yang terdapat 28 siswa itu seperti kelas yang kosong. Semua orang di kelas itu sibuk mengerjakan sesuatu di mejanya masing-masing tanpa bersuara. Mereka hanya berbicara kepada diri mereka masing-masing. Mungkin menghapal rumus atau menghapal nama latin tumbuh-tumbuhan yang susah dihapal karena nama-namanya sangat asing. Tetapi, hanya ada satu orang yang tidak sibuk mengerjakan sesuatu seperti yang lainnya. Ia hanya memutar-mutarkan pulpennya. Sampai guru pelajaran pertama datang.  Semua murid langsung pada posisi siap untuk belajar. Dengan sikap santai Gilang mendengarkan guru yang ada di depannya yang sedang menjelaskan. Walaupun semua murid sedang mendengarkan guru itu dengan serius. Gilang pun hanya menopang dagu menatap jendela. Gilang tidak tahu harus berbuat apa. Ia merasa ada yang merubah hidupnya. Tiap hari perasaannya selalu senang. Tidak tahu senang untuk apa. Perasaannya tidak tertekan setiap saat. Tidak memikirkan belajar seratus persen. Selalu ada saja kegiatan yang Gilang lakukan selain belajar. Dan itu membuatnya menjadi rileks.
          
        “Al, ajarin kita matematika bab 7 donk. Bener-bener gag ngerti nih.” Teman-temannya membujuk Alzura yang sedang makan somay di kantin. “udaaah, lu pada makan aja dulu. Kagak laper apa dari tadi belajar?” kata alzura sambil terus memakan somaynya.

“tapi ntar lu ajarin kita yaaa.”

“pasti gw ajarin. Udah makan dulu.”

“oke deh, di rumah lu aja ya Al.”

“pala lu peyang. Mana ada gw punya rumah.gag inget apa itu rumah siapa.” Kata Gilang sambil memukul pelan kepala teman-temannya.

“oh iya-ya. Yaudah, di rumah Nada aja gimana da?” kata Jes.

“boleh-boleh. Tapi, apa gag kejauhan dari rumah lu Al?”

“jauh sih. Tapi gag papalah.”

“lu naik mobil gw aja sampai halte bus yang agak deket rumah lu itu Al. Gimana?” kata Jes sok yes.

“agak deket? Jauh kaliii.. yaudah lu anter gw ampe halte aja. Naik bis 5 menit juga udah sampe koq di depan gang.”
     Gilang berjalan keluar kelas. Sekilas ia melihat papan mading yang bertuliskan ‘PERTANDINGAN BOLA   6 Maret  2009 DI KANDANG LAWAN SMAN 5.’ Pasti ramai banget. Dari zaman ke zaman SMAN 2  selalu semangat menjadi supporter sepak bola, bola basket, bola voli, atau pertandingan apapun yang SMAN 2 ikuti. Menang kalah itu tidak penting. Yang penting senang-senang bersama teman se-SMA. Apalagi sekarang semester terakhir di sekolah. Masa yang katanya paling dikenang. Dan menurut Gilang itu hal yang biasa aja. Gag ada sesuatu yang dapat di kenang. Apapun itu. Kecuali kejuaraannya di SMAN 2 ini. “woy Lang. Melamun aja.” Kata Dika si ketua osis menepuk bahu gilang.

“ngaco lu.”

“eh, lusa nonton bola  ya.”  Tapi gilang hanya diam saja. “ oh iya gw lupa. Lu kan paling males di tempat rame gitu. “

“siapa bilang?”

“gw lah lang. Gw tau elu lang. Lu pasti males nonton kan?” tebak Dika.

“ya begitulah.” Sambil menaikan bahunya.

“ah elu mah. Kali-kali gitu nonton anak sekolah kita tanding. Basket aja lu dateng.”

“yang maen kan gw.” Kata Gilang santai.

“haha. Iya-ya. Dodol banget gw! Yaudah lang, gw mau ngapel cewek gw dulu. Keburu marah-marah ntar. Hehe.”

3 ♥ 

Amy Baidi

My name is Ummi Santria, I'm full time teacher and part time blogger who lived in Yogyakarta. I try to stay close to what keeps I feeling alive

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Thanks for stopping by